Karya sastranya dikenal sebagai sastra klasik angkatan-30an. Karyanya menjadi rujukan dimasa kini sebagai salah satu ikon yang terkenal pada jajaran sastra klasik. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, Di Bawah Lindungan Ka'bah, Laila Majnun, Merantau ke Deli merupakan beberapa karya dari sekian karyanya yang membahas berbagai bidang, bahkan buku berjudul Pak Direktur sangat terkenal di Malaysia.

Sejak muda, ia sudah sangat aktif dalam mendalami suatu ilmu, padahal sekolah hanya sampai kelas 2 sekolah dasar, namun ia merupakan seorang otodidak yang menyebabkan cara pandangnya sangat luas. Sang ayah, Haji Karim Amrullah, yang dikenal sebagai Haji Rasul, merupakan pelopor gerakan anti-taqlid. Sang ayah pun mendirikan sebuah pesantren yang bernama Sumatera Thawalib. Hamka pun belajar disana, namun Hamka sering keluar tanpa sepengetahuan ayah dan lebih senang menyendiri di hutan. Inilah yang membuat sang ayah sangat khawatir akan perkembangan sang anak. Namun diluar dugaan, Hamka ternyata banyak membaca mengenai buku fiqh, tauhid, tasawwuf, filsafat, bahkan buku para pemikir-pemikir Barat pun dibacanya. Suatu ketika, sang ayah menyuruh Hamka untuk mengajar Ushul Fiqh pada para santri menggantikan ayahnya yang sedang ada keperluan. Ternyata, sang ayah mengintip dari jendela dan melihat anaknya menyampaikan pelajaran tersebut dengan sangat menawan.
Bersambung...................

Sejak muda, ia sudah sangat aktif dalam mendalami suatu ilmu, padahal sekolah hanya sampai kelas 2 sekolah dasar, namun ia merupakan seorang otodidak yang menyebabkan cara pandangnya sangat luas. Sang ayah, Haji Karim Amrullah, yang dikenal sebagai Haji Rasul, merupakan pelopor gerakan anti-taqlid. Sang ayah pun mendirikan sebuah pesantren yang bernama Sumatera Thawalib. Hamka pun belajar disana, namun Hamka sering keluar tanpa sepengetahuan ayah dan lebih senang menyendiri di hutan. Inilah yang membuat sang ayah sangat khawatir akan perkembangan sang anak. Namun diluar dugaan, Hamka ternyata banyak membaca mengenai buku fiqh, tauhid, tasawwuf, filsafat, bahkan buku para pemikir-pemikir Barat pun dibacanya. Suatu ketika, sang ayah menyuruh Hamka untuk mengajar Ushul Fiqh pada para santri menggantikan ayahnya yang sedang ada keperluan. Ternyata, sang ayah mengintip dari jendela dan melihat anaknya menyampaikan pelajaran tersebut dengan sangat menawan.
Bersambung...................

Tidak ada komentar:
Posting Komentar